UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan Perkuat Moderasi Beragama melalui Seminar Ilmiah Bersama Dua Guru Besar Kemenag RI
Padangsidimpuan – Komitmen UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan dalam membangun budaya akademik yang moderat, inklusif, dan berwawasan kebangsaan kembali diwujudkan melalui penyelenggaraan Seminar Ilmiah Moderasi Beragama yang mengangkat tema “Moderasi Beragama dan Penguatan Wawasan Kebangsaan: Membangun Generasi Akademik yang Moderat, Inklusif, dan Berdaya Saing Menuju Indonesia Emas 2045.”
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) tersebut berlangsung di Aula Perpustakaan Lantai III pada Kamis (9/7/2026) dan diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri atas pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta tamu undangan.
Seminar dibuka secara resmi oleh Rektor UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan, Prof. Dr. H. Sumper Mulia Harahap, M.Ag. Dalam sambutannya, Rektor menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam mempersiapkan generasi yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama, kemanusiaan, dan kebangsaan.
Menurutnya, moderasi beragama merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun kehidupan kampus yang harmonis sekaligus menjadi modal utama dalam melahirkan lulusan yang unggul, berkarakter, dan mampu berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
“Perguruan tinggi tidak hanya mencetak lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga harus melahirkan insan akademik yang mampu menghargai keberagaman, menjunjung persatuan, dan menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar Rektor.
Untuk memperkaya wawasan peserta, seminar menghadirkan dua narasumber nasional dari Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama Republik Indonesia, yakni Prof. Dr. H. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP., M.T., Kepala BMBPSDM Kementerian Agama RI, dan Prof. Dr. H. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag., Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan BMBPSDM Kementerian Agama RI.
Pada sesi pertama, Prof. Ahmad Zainul Hamdi menegaskan bahwa moderasi beragama bukanlah upaya mengurangi keyakinan seseorang, melainkan kemampuan menghormati keyakinan orang lain tanpa kehilangan identitas keagamaan sendiri.
Menurutnya, nilai-nilai toleransi sejatinya telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Tantangan terbesar dunia pendidikan saat ini bukan hanya mencetak generasi yang cerdas, tetapi juga memastikan kecerdasan tersebut diiringi dengan karakter kemanusiaan dan semangat kebangsaan.
“Kepintaran tanpa moderasi beragama hanya akan melahirkan kebencian. Semakin tinggi ilmu seseorang tanpa diimbangi karakter yang baik, semakin besar pula potensi kerusakan yang dapat ditimbulkan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan mewujudkan Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya melalui pembangunan infrastruktur maupun kemajuan teknologi. Faktor penentu sesungguhnya adalah kualitas manusia yang mengelolanya. Oleh sebab itu, perguruan tinggi perlu terus mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat agar lahir lulusan yang profesional, berintegritas, adaptif, serta mampu menjadi agen perdamaian di tengah keberagaman.
Sementara itu, Prof. Muhammad Ali Ramdhani mengajak seluruh sivitas akademika memahami bahwa moderasi beragama lahir dari akal yang dimuliakan melalui pendidikan. Menurutnya, kampus harus menjadi pusat lahirnya peradaban, bukan sekadar tempat mentransfer ilmu pengetahuan.
Ia menjelaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045 harus dilakukan secara menyeluruh melalui penguatan lima dimensi kecerdasan, yaitu intelektual, emosional, fisik, sosial, dan spiritual. Kelima dimensi tersebut akan melahirkan pribadi yang mampu berpikir kritis, mengendalikan emosi, menghargai sesama, serta memiliki integritas moral yang kuat.
Prof. Ramdhani juga mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kemampuan peserta didik menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Karena itu, ia mengajak seluruh pendidik untuk membangun proses pembelajaran yang humanis, penuh kasih sayang, dan menghargai martabat setiap manusia.
“Bentuk moderasi beragama pada dasarnya adalah mencintai yang ada di bumi agar kita dicintai oleh yang di langit,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, Lembaga Penjaminan Mutu UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan menegaskan komitmennya untuk terus mendukung implementasi program prioritas Kementerian Agama Republik Indonesia dalam penguatan moderasi beragama. Seminar ini diharapkan menjadi momentum memperkokoh budaya akademik yang menjunjung tinggi nilai toleransi, dialog, dan kolaborasi sehingga sivitas akademika mampu menjadi pelopor terciptanya kehidupan kampus yang damai, harmonis, dan berkualitas, sekaligus berkontribusi nyata dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.